03 Maret 2008

Timbangan

Oleh: Ahmad Taufiq Abdurrahman

Beberapa hari yang lalu ada seorang kawan membeli satu kilo buah kelengkeng di sebuah lapak tukang buah di daerah terminal kampung melayu. Dia, layaknya saya yang lelaki, kerap tidak perduli dengan tetk bengek soal harga ataupun timbangan. Baiklah, harga berapunyang penting cepat terbungkus, bisa lekas dibawa, dan cepat pulang menemui anak dan istri.

Setibanya di rumah ibu kawan saya dengan suka cita menyambut ‘oleh-oleh’ perjalanan singkat pulang kantor tersebut. Namun sungguh tak terduga ucapan yang dia lontarkan, “Wah kamu tertipu!” Dan dengan kesal bercampur peluh letih setelah berhimpitan di bus kota yang sesak dan kotor, ditambah dengan macet dan polusi udara Jakarta yang over limit, akhirnya kawan saya lebih memilih ‘puasa’ untuk turut menyantap ‘oleh-oleh’ yang menjengkelkan itu.

Jengkel bercampur kesal ketika ibu kawan saya memberitahu kawan saya bahwa dia telah tertipuoleh timbangan si pedang yang ‘curang’ memanipulasi timbangan hingga hampir seperempat takarannya berkurang.

Sungguh ironis kawan saya yang telah letih bekerja, banting tulang untuk mengejar UMR yang untuk hari itu sengaja ia ‘potong’ untuk membeli oleh-oleh ringan perjalan lepas kerja.

Kisah tersebut hanya sebuah fenomena kecil yang sangat dan teramat banyak untuk didata dlaamkehidupan keseharian Jakarta, atau bahkan di berbagai belahan dunia. Ironisnya, pola ‘cacing memakan cacing’ hanya untuk survive hidup satu hari di meytropolitan yang ganas. Berita caing besar sang koruptor yang suka memakan cacing dan jerih payah caing-caing kecilpun merebak di mana-mana, dari sogok menyogok di wwatrung pinggir jalan untuk menghindari tilang, sampai makan-memakan, tindas menindas uang rakyat yang milyaran rupiah.

Manipulasi sudah mendarah daging dalam tubuh bangsa ini. Cacing yang seharusnya tidak canibalian sudah tega merubah ekosistem fitrah hati yang tidak lagi perduli dengan sesama habitatnya. Manipulasi ala ‘jahiliyah’ dengan mengurangi timbangan, atau emberi pemberat pada timbangan sepertinya telah menjadi elumrahan duani bisnis dari sub terkecil bangsa ini. Pasar tradisional yang sangat ‘alami’ menggambarkan pola ekonomi bangsa ini setiap harinya pasti diwarnai oleh ulah-ulang cacing yang memakn caing lainnya.

Penulis pernah beberapa tahun tinggal di Mesir dan India. Pelajarn berharga seputar ‘kesadaran akan kejujuran’ yang penulis lihat, alami dan jalani di dua negara tersebut mungkin layak untuk dijadikan komparasi budaya. Anggaplah Indonesia sebagai barometer terbaik dan terburuk dalam kasus ini, atau anggap saja Indonesia sebagai model dalam komparasi ini. Dan anggaplah saat ini ita bicara dalam wacana Negara dengan moralitas yang ‘tradisional’ karena ketiga Negara tersebut (Indonesia, mesir dan India) memiliki banyak kesamaan dalam konteks perkembangan ekonomi, idelisme politik ataupun wawasan nasionalistik seputar ‘kebudayaan loka’.

Mesir, sebuah Negara Islam moderat yang telah mengalami berbagai fenomena revolusi dan peralihan budaya, benturan ataupun reingkarnasi budaya, adalah Negara ‘tradisional’ yang telah mengenyakm banyak pengalaman peralihan budaya dunia ini. Dengan letaknya yang signifikan sebagai jantung mediator dan jalan tembus (ideology, ekonomi atupun politik) dunia barat dan timur, membuat Negara ini moderat dengan ‘unsur asing’ walau dibeberapa sisi merekamemilii idealisme dan fanatisme tersendiri untuk mempertahankan root peradban Arab mereka. Hal sungguh menakjubkan di sana adlah, ketika ideology (agama) yang begitu mendominasi berbagai aspek masyarakatnya justru cenderung terlihat samara di permukaan. Maksudnya moderasi orang-orang mesir dalam hal ‘penampakan’ keagamaan mereka tidak begitu kentara dibandingkan rasa nasionalistik dan mesirian mereka. Islam sebagai yang moayirat, Al Azhar sebagai yang kadigjaya di bidang keilmuan Islam justru membuat masyarakatnya hidup asri dalam pluralitas keagaman (walau jumlah non-muslim di Mesir relative sedikit).

MAsyarakatnya bisa menempatkan agama sebagai bagian hati, teraplikasi dari kesederhanaan dan keramahan mereka dalam meneriman, menilai ataupun menyikapi unsure asing (agama non-Islam termasuk di dlamnya). Islam sudah seperti menjadi jantung dalam tubuh mereka, yang tidak nampak karena tersembunyi di balik kulit, daging darah dan tulung tubuh, tetapi pencerahannya begitu ternampakkan dalam senyum dan keasrian kehidupan mereka. Budaya Arab yang kental terjaga –dan keshalihan serta kearifan beragam dna menjalan syariat Islam- membuat Negara itu aman untuk para pelancong sekalipun yang bisa berjalan-jalan di tengah malam buta.

India, dengan penduduk besar dan terkesan ‘berhimpitan’ dan kekumuhan, kemiskinan dan kelaparan, justru andai jika dimasuki dan dileusuri dari dalam akan terlihat sisi eksotiknya. Dengan nasionalisme (modern) dan idealisme serta keindiaan masyarakatnya, mereka telah berhasil menorehkan sejarah menggusur olonial Inggris untuk hengkang dengan pengorbanan dna perjuangan yang klimaksnya dipersatukan oleh isu garam yang digulirkan oleh Mohandes Mahatma Ghandi untuk mengusir Inggris. Mereka melawan colonial hanya dnegan memboikot impor garam India, dan benar saja, dapur para ibu-ibu di London dan Inggris raya lainnya masalaknya menjadi hambar hanya karena kekurangan ‘garam India’.

Indonesia yang berjuang panjang melawan kolonialisme dan berujung pada ‘campur tangan’ asing untuk menekuk lutut Jepang dan hengkang dari tanah pertiwi, hingga kini justru ‘bingung’ dengan jati dirinya sendiri. Apakah ia akan menjadi Indonesia, ataukan rela lepas tergerus globalisasi dunia (peradaban ataupun ekonomi, bahkan ekologinya).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar